/ Ekspor Timur Tengah Naik, Harga WTI Berpotensi Lanjut Turun
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih berpotensi menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa (6/10/2026), setelah kekhawatiran mengenai keterbatasan pasokan global mulai mereda. Peningkatan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah serta rencana negara-negara G7 untuk menambah pasokan dari cadangan darurat menjadi sentimen yang membatasi kenaikan harga minyak.
Reuters melaporkan harga WTI berada di sekitar US$89,33 per barel pada awal perdagangan Selasa, turun 11 sen atau sekitar 0,1%. Pergerakan tersebut mencerminkan pasar yang masih menimbang peningkatan pasokan dari Timur Tengah terhadap risiko gangguan akibat konflik di kawasan.
Dari sisi teknikal, analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, melihat WTI masih memiliki peluang untuk melanjutkan pelemahan. Pada timeframe Daily, harga berpotensi bergerak menuju zona support 86.68–83.42.
“Secara teknikal, WTI masih berada dalam tekanan bearish. Harga membentuk pola Bearish Pennant yang mengindikasikan peluang kelanjutan tren turun. Konfirmasi tambahan terlihat dari pola Bearish Engulfing, sehingga area 86.68–83.42 menjadi support yang perlu diperhatikan,” ujar Geraldo.
Pola Bearish Pennant umumnya menunjukkan fase konsolidasi setelah pergerakan turun yang kuat. Apabila harga menembus batas bawah pola tersebut, tekanan jual berpotensi kembali meningkat. Sementara itu, pembentukan Bearish Engulfing memperkuat sinyal bahwa seller masih memiliki kendali terhadap pergerakan harga pada timeframe Daily.
Dari sisi fundamental, salah satu faktor yang menekan minyak adalah membaiknya aliran pasokan dari kawasan Timur Tengah. Reuters melaporkan ekspor minyak dari kawasan tersebut telah meningkat dan bahkan sempat melampaui level sebelum perang pada sejumlah hari di akhir September. Peningkatan pengiriman terutama didorong oleh pemulihan ekspor Arab Saudi.
Selain peningkatan ekspor, keputusan negara-negara G7 untuk melepas minyak dan produk energi dari cadangan darurat juga mengurangi kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan. Reuters melaporkan negara-negara G7 menyepakati pelepasan sekitar 100 juta barel dari cadangan darurat, meskipun jumlah tambahan yang benar-benar masuk ke pasar masih menjadi perhatian.
Menurut Geraldo, kombinasi antara pemulihan ekspor dan tambahan pasokan dari cadangan strategis dapat menjadi faktor bearish bagi WTI dalam jangka pendek. Namun, potensi penurunan harga tidak berarti risiko pasokan telah sepenuhnya hilang.
“Fundamental pasokan saat ini cenderung memberikan tekanan terhadap WTI karena ekspor Timur Tengah kembali meningkat dan G7 berkomitmen menambah pasokan dari cadangan darurat. Tetapi risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang dapat membatasi penurunan apabila terjadi gangguan terhadap infrastruktur atau jalur distribusi minyak,” jelas Geraldo.
Risiko tersebut masih terlihat dari perkembangan di kawasan Teluk. Reuters melaporkan serangan oleh kelompok Houthi terhadap target di Arab Saudi tetap menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan kembali kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan produsen minyak utama.
Kondisi ini membuat pasar minyak berada dalam tarik-menarik antara membaiknya pasokan dan risiko geopolitik. Di satu sisi, peningkatan ekspor dan rencana pelepasan cadangan dapat mengurangi premi risiko pada harga minyak. Di sisi lain, eskalasi konflik yang mengganggu jalur perdagangan atau fasilitas produksi dapat dengan cepat mengubah sentimen menjadi bullish.
Dalam jangka pendek, Dupoin Futures melihat struktur teknikal WTI masih cenderung bearish. Selama harga belum menunjukkan pembalikan yang kuat, zona 86.68–83.42 menjadi area support yang berpotensi diuji. Apabila harga berhasil bertahan di atas support tersebut dan muncul katalis geopolitik baru, tekanan jual dapat berkurang.
Dengan demikian, harga WTI hari ini berpotensi melanjutkan pelemahan dengan area 86.68–83.42 sebagai target support utama. Pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan ekspor Timur Tengah, kebijakan pelepasan cadangan G7, serta risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik sebagai faktor yang dapat mengubah arah harga minyak secara cepat.