/ Harga Minyak WTI Berpotensi Melemah, Dupoin Futures Soroti Level 88.67
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) masih bergerak dalam volatilitas tinggi di tengah ketidakpastian konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Meskipun harga minyak mendapat dukungan dari kekhawatiran gangguan pasokan, analisis teknikal menunjukkan WTI masih berpotensi menghadapi tekanan bearish dalam perdagangan hari Selasa (29/9).
Berdasarkan analisis Dupoin Futures, harga minyak WTI pada timeframe Daily belum mampu ditutup di atas zona supply pada level 96.50–99.06. Kegagalan menembus area tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa tekanan jual masih berpotensi berlanjut. Kondisi ini membuka peluang bagi WTI untuk membentuk pola ABC Correction dengan potensi penurunan menuju zona support terdekat di 88.67–86.61.
Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, melihat zona supply 96.50–99.06 menjadi area penting yang perlu diperhatikan untuk menentukan arah pergerakan WTI selanjutnya. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas zona tersebut, peluang terjadinya koreksi penurunan masih terbuka.
Pembentukan pola ABC Correction juga menjadi bagian penting dalam analisis teknikal Dupoin Futures. Pola tersebut menunjukkan adanya potensi koreksi setelah harga mengalami pergerakan sebelumnya. Apabila tekanan jual semakin kuat, WTI berpotensi bergerak menuju support 88.67–86.61.
Namun, tekanan bearish secara teknikal tersebut berlangsung ketika fundamental minyak justru masih mendapatkan dukungan dari risiko geopolitik. Harga minyak naik untuk sesi kedua berturut-turut pada Selasa, seiring kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akibat konflik AS-Iran. Reuters melaporkan WTI naik sekitar 0,8% menjadi US$93,32 per barel, sementara Brent naik 0,6% menjadi US$105,91 per barel.
Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menjaga premi risiko di pasar minyak. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global, sehingga gangguan terhadap arus pengiriman dapat memberikan tekanan terhadap pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Di sisi lain, terdapat tanda-tanda bahwa sebagian arus ekspor minyak Timur Tengah mulai pulih. Reuters mencatat ekspor minyak dari produsen utama kawasan tersebut mencapai sekitar 12,8 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak Februari. Meski demikian, tantangan logistik dan biaya pengiriman masih membuat aliran pasokan belum sepenuhnya normal.
Situasi tersebut membuat harga WTI berada di antara dua sentimen utama. Risiko gangguan pasokan dan ketidakpastian negosiasi AS-Iran dapat menjaga harga tetap tinggi, sedangkan pemulihan ekspor berpotensi membatasi kenaikan. Reuters juga melaporkan bahwa upaya diplomatik baru melalui mediator Qatar masih berlangsung, tetapi belum memberikan kepastian mengenai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Hormuz.
Menurut Dupoin Futures, perkembangan geopolitik tetap menjadi katalis penting yang dapat meningkatkan volatilitas WTI. Namun, dari perspektif teknikal, kegagalan harga menembus zona supply 96.50–99.06 membuat skenario koreksi masih perlu diperhatikan.
Dengan demikian, prediksi harga minyak WTI hari ini menunjukkan potensi pelemahan menuju area 88.67–86.61 apabila tekanan jual berlanjut. Selama harga belum mampu menembus zona supply 96.50–99.06, pola ABC Correction masih berpotensi berkembang. Sementara itu, perkembangan negosiasi AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, serta pemulihan arus ekspor minyak Timur Tengah akan menjadi faktor fundamental yang dapat menentukan seberapa kuat tekanan maupun penguatan WTI selanjutnya.