/ Pasar Emas Berhati-hati Menjelang Rilis Data Ketenagakerjaan AS
Pergerakan Emas (XAU/USD) global menunjukkan pelemahan terbatas pada perdagangan terkini, menyusul rilis sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang mencerminkan perbaikan aktivitas bisnis dan ketahanan pasar tenaga kerja. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi setelah reli kuat sebelumnya. Meski demikian, arah utama pergerakan Emas (XAU/USD) masih berada dalam jalur bullish.
Pada perdagangan Rabu (7/1), harga Emas terkoreksi hampir satu persen setelah sempat mencatatkan level tertinggi terbarunya. Emas kemudian bergerak di sekitar area $4.465, seiring meningkatnya optimisme terhadap prospek ekonomi AS. Data ekonomi yang lebih solid membuat sebagian investor mengurangi kepemilikan aset safe-haven dalam jangka pendek, sehingga memicu aksi ambil untung di pasar logam mulia.
Meski mengalami koreksi, menurut Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa sinyal teknikal emas masih menunjukkan kecenderungan positif. Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan pergerakan indikator Moving Average, mengindikasikan bahwa tekanan beli belum sepenuhnya melemah.
Kondisi ini membuka peluang bagi XAU/USD untuk kembali menguat apabila sentimen pasar berbalik mendukung. Dalam proyeksi jangka pendek, harga Emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area $4.520 jika momentum bullish kembali menguat. Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut, maka area $4.432 diperkirakan menjadi zona penurunan terdekat yang akan diuji pasar.
Pada sesi perdagangan Asia hari Kamis (8/1), harga Emas kembali bergerak melemah mendekati area $4.450. Pelemahan ini terjadi di tengah berkurangnya kekhawatiran geopolitik dan meningkatnya kehati-hatian investor menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Aksi ambil untung dinilai sebagai faktor utama yang membatasi pergerakan harga, terutama setelah reli tajam yang terjadi dalam beberapa sesi sebelumnya.
Fokus pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS bulan Desember yang akan dirilis pada akhir pekan ini. Data tersebut dipandang krusial karena dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, peluang pelonggaran kebijakan moneter akan kembali menguat, yang secara historis cenderung mendukung harga Emas. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi logam mulia dalam jangka pendek.
Sementara itu, indikator ekonomi lainnya menunjukkan gambaran yang beragam. PMI Jasa ISM tercatat meningkat, mencerminkan ekspansi aktivitas sektor jasa AS, dengan subindeks ketenagakerjaan kembali ke zona ekspansi. Namun, laporan JOLTS memperlihatkan penurunan jumlah lowongan pekerjaan, yang menandakan adanya pendinginan bertahap di pasar tenaga kerja. Kombinasi data ini menciptakan ketidakpastian arah pasar dalam jangka pendek.
Dengan latar belakang tersebut, Andy Nugraha menilai bahwa pergerakan harga emas ke depan masih akan diwarnai volatilitas. Selama struktur tren bullish tetap terjaga dan harga mampu bertahan di atas area support kunci, potensi penguatan dinilai masih terbuka, meskipun pasar saat ini berada dalam fase konsolidasi menunggu katalis berikutnya dari data ekonomi AS.