/ Mengadopsi Strategi "Clipper Economy" Timothy Ronald, BisnisOn Hadirkan Solusi Dominasi Media Sosial untuk Brand High-Risk
Pergeseran strategi ini tidak lepas dari studi kasus sukses yang terjadi pada pertengahan 2025, saat pengusaha muda Timothy Ronald berhasil mempromosikan bisnis industri crypto-nya tanpa bergantung pada iklan berbayar konvensional.
Strategi yang digunakan adalah memobilisasi ribuan kreator independen—atau dikenal sebagai "Clipper"—untuk memotong, mengedit, dan menyebarkan ulang kontennya secara masif. Dampaknya adalah dominasi algoritma yang mutlak. Saat ini, metode serupa telah diadopsi luas oleh berbagai influencer besar yang menawarkan sistem bounty (imbalan) bagi para clipper, membuktikan bahwa model ini adalah cara paling efektif untuk mendapatkan atensi dengan biaya yang terukur.
"Apa yang dilakukan Timothy Ronald dan influencer lain membuktikan satu hal: Di era 2026, Organic Reach melalui satu akun resmi sudah mati. Kuncinya adalah desentralisasi konten lewat ribuan akun pihak ketiga," ujar mas Tama CEO BisnisOn.
Meskipun terbukti efektif, mengadopsi strategi Clipper memiliki tantangan operasional yang besar bagi perusahaan. Mengelola ribuan kreator lepas, memastikan kualitas konten (Quality Control), hingga sistem pembayaran bounty, menjadi mimpi buruk logistik bagi brand besar.
Di sinilah PT BisnisOn Digital Solutions masuk sebagai jembatan infrastruktur. Berbekal pengalaman sejak tahun 2015 di industri SMM Panel dan teknologi pemasaran, BisnisOn menawarkan solusi end-to-end bagi perusahaan yang ingin mendominasi media sosial tanpa kerumitan manajerial.
Layanan terbaru BisnisOn memungkinkan brand untuk memiliki "pasukan" distribusi konten sendiri yang terkelola secara profesional. Fokus utamanya adalah membantu brand menguasai Share of Voice—persentase percakapan dan visibilitas di pasar—yang kini menjadi metrik paling berharga dibanding sekadar jumlah followers.
"Untuk company besar, mengurus ribuan clipper secara manual itu tidak efisien. BisnisOn hadir sebagai infrastruktur yang memastikan distribusi konten berjalan masif, terstruktur, dan tepat sasaran," jelas Akmal J. Pratama, CEO BisnisOn.
Mas Tama menambahkan, "Kami mentransformasi strategi yang awalnya hanya dipakai personal branding influencer, menjadi senjata korporasi yang scalable. Tujuannya agar brand restricted tetap bisa mendominasi pasar dan memenangkan Game of Attention tanpa takut dibungkam oleh regulasi platform."