/ Perlindungan Perdagangan Proaktif Perkuat Keberlanjutan Bisnis Krakatau Steel di Tengah Banjir Baja Global
Krakatau Steel Group melihat efektivitas perlindungan perdagangan bukan hanya soal menjaga level harga, tetapi menyangkut keberlangsungan kapasitas produksi nasional dan stabilitas kinerja usaha jangka panjang. Direktur Utama Krakatau Steel Group, Dr. Akbar Djohan, menegaskan bahwa industri baja nasional membutuhkan sistem proteksi yang mampu bekerja cepat seiring dinamika tekanan global.
“Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa ketika respons terlambat, biaya pemulihannya jauh lebih besar. Bagi Krakatau Steel dan industri baja nasional, perlindungan perdagangan yang kuat adalah fondasi untuk menjaga utilisasi, arus kas sehat, serta keberlanjutan investasi,” ujar Dr. Akbar Djohan, yang juga mengemban amanah sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).
Ia menambahkan bahwa pasar domestik harus dikembangkan sebagai basis pertumbuhan industri nasional, bukan menjadi tempat limpahan kelebihan kapasitas global.
Tekanan Global Semakin Mengalir ke Indonesia
Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji dari Steel & Mining Insight menilai pengalaman Inggris menjadi pelajaran penting. Industri baja negara tersebut tergerus bertahap akibat impor murah hingga pemerintah harus turun langsung menyelamatkan pabrik-pabrik strategis melalui pengambilalihan darurat.
“Reformasi trade remedies Inggris memindahkan peran negara ke fase awal tekanan pasar, bukan menunggu industri runtuh lebih dulu,” tulis Widodo.
Kelebihan kapasitas baja dunia yang melampaui 600 juta ton mendorong ekspor besar-besaran, khususnya dari Tiongkok yang mencatat rekor 119 juta ton pada 2025. Indonesia menjadi salah satu tujuan utama limpahan surplus tersebut.
Widodo mencatat impor baja Tiongkok ke Indonesia mendekati 6,4 juta ton pada 2025, tumbuh sekitar 17 persen yoy, jauh melampaui pertumbuhan permintaan domestik.
Momentum Percepatan Asta Cita
Adapun penguatan perlindungan perdagangan sejalan dengan Asta Cita Presiden RI dalam memperkuat industri strategis nasional dan kemandirian ekonomi. Industri baja menjadi fondasi utama pembangunan manufaktur dan hilirisasi nasional.
Widodo menegaskan, intervensi dini jauh lebih efektif dibanding penyelamatan industri setelah krisis terjadi. Tanpa sistem proteksi yang adaptif, Indonesia berisiko mengalami erosi kapasitas industri sebagaimana dialami Inggris.