/ Dr. Akbar Djohan, Direktur Utama Krakatau Steel Group Kembali Nakhodai IISIA,Fokus pada Akselerasi Ekosistem Industri Baja Indonesia untuk Menembus Pasar Global
Dalam arahannya, Menperin Agus Gumiwang menegaskan bahwa kepengurusan IISIA periode ini merupakan mitra strategis krusal sekaligus motor penggerak dalam memperkuat struktur industri baja yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Menperin mencatat prestasi gemilang subsektor industri logam dasar yang tumbuh pesat 15,71% pada tahun 2025, menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 produsen baja dunia dengan total produksi mencapai 19 juta ton.
Visi "Blue-Green" untuk Masa Depan Baja Nasional yang Rendah Karbon dan Berkelanjutan.
Memasuki periode kedua kepemimpinannya, Dr. Akbar Djohan membawa visi besar transformasi ekosistem baja melalui konsep "Blue-Green Industry". Inisiatif ini mengintegrasikan inovasi teknologi digital dengan komitmen keberlanjutan lingkungan guna memenuhi standar global yang kian ketat.
"Kami bertekad menjadikan IISIA sebagai rumah yang inklusif dan solid bagi seluruh pelaku industri baja nasional, baik dari sektor hulu hingga hilir. Fokus kami pada 2026-2030 adalah membangun fondasi bangsa yang kuat melalui penguatan solidaritas antaranggota dan peningkatan daya saing di kancah internasional," ujar Dr. Akbar Djohan yang juga menjabat sebagai Chairman ALFI/ILFA.
Menjawab Tantangan Struktural dan Tekanan Global
Meski produksi nasional tumbuh rata-rata 14% per tahun, Akbar menyoroti tantangan optimalisasi utilisasi industri yang masih berada di angka 52,7% serta ancaman praktik dumping impor yang mendistorsi persaingan sehat di pasar. Menanggapi hal tersebut, Krakatau Steel bersama IISIA akan memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mengoptimalkan perlindungan pasar melalui penerapan SNI wajib secara konsisten dan tegas.
"Industri baja adalah tulang punggung pembangunan nasional. Melalui penguatan hilirisasi dan produk bernilai tambah tinggi, kita tidak hanya akan berjaya di negeri sendiri, tetapi juga menjadi pemain yang disegani di pasar internasional," tambahnya.
Melalui kepemimpinan di IISIA, Krakatau Steel berkomitmen untuk terus memelopori integrasi industri baja dari hulu ke hilir, memastikan pasokan baja untuk kebutuhan infrastruktur dan manufaktur nasional tetap terjaga secara mandiri dan kompetitif sehingga sejalan dengan visi besar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang tertuang dalam Asta Cita.
Optimalisasi dan Transformasi Jadi Kunci Daya Saing
Pada kesempatan tersebut Dr. Akbar Djohan turut menekankan dua mesin penggerak utama dalam kepengurusannya: optimalisasi aset dan transformasi teknologi. Langkah ini bertujuan menutup celah defisit produk antara (intermediate) dan hilir guna menekan ketergantungan impor bahan baku serta memperkuat struktur biaya industri nasional.
“Transformasi digital dalam proses produksi dan penguatan rantai pasok domestik adalah kunci agar industri baja kita efisien dan memiliki daya tawar tinggi di pasar ekspor,” tegas Akbar.
Krakatau Steel: Motor Penggerak Industri Nasional
Sebagai pemimpin pasar, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) terus memperkuat peran strategisnya sebagai lokomotif ekonomi dalam mendukung kemandirian industri nasional. Dr. Akbar Djohan memastikan bahwa Krakatau Steel Group akan terus meningkatkan kapasitas dan efisiensi operasional untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Dengan sinergi di bawah naungan IISIA, Krakatau Steel Group siap menjadi katalisator pertumbuhan sektor manufaktur serta pionir dalam penerapan standar industri hijau yang kompetitif di kawasan regional, memastikan pasokan baja untuk infrastruktur nasional tetap terjaga secara mandiri dan kompetitif.